
Howard Storm
Diambil dan diperingkas dari bukunya “My Decent to Death” (Perjalananku Menuju Kematian)
Sebelum mengalami PHM, Pendeta Howard Storm adalah seorang Profesor Senirupa di Northern Kentucky University dan saat itu ia bukan orang yang menyenangkan. Dia mengaku sebagai seorang atheis dan memusuhi semua agama dan penganutnya. Dia sering menggunakan amarah untuk mengontrol orang2 di sekitarnya dan tidak merasa damai sejahtera terhadap apapun juga. Dia tidak percaya pada segala hal yang tidak bisa dilihat, dipegang, atau dirasakan. Dia sangat yakin bahwa tidak ada apa2 di luar dunia material ini. Semua hal yang berhubungan dengan kepercayaan dianggapnya sebagai angan2 belaka untuk orang2 yang ingin menipu diri mereka sendiri. Segala sesuatu yang di luar sains merupakan omong kosong belaka.
Pada tanggal 1 Juni, 1985, di usia 38 tahun, Howard Storm dapat PHM karena ada perlubangan di lambung dan setelah itu hidupnya berubah sedemikian hebatnya sampai ia mengundurkan diri dari jabatan Profesor Seni dan lalu kuliah di United Theological Seminary untuk menjadi Pendeta di United Church of Christ. Berikut adalah kutipan PHM Howard Storm yang diambil dari bukunya “My Descent Into Death.”
Ajakan ke Neraka oleh Makhluk2 Aneh
Di tahun 1985, Howard Storm dan istrinya, Beverly, sedang berlibur dan ikut tur museum seni di Paris. Ia mulai mengalami rasa sakit luar biasa di lambungnya dan harus dibawa ke rumah sakit. Hari itu adalah hari Minggu dan hanya ada satu dokter bedah untuk seluruh RS, lainnya sedang liburan akhir minggu. Selama 10 jam di RS, Howard Storm tidak mendapat perawatan apapun dan menderita sakit luarbiasa di tempat tidurnya.
Perasaanku berkecamuk saat aku susah payah mengucapkan selamat tinggal pada istriku. Yang bisa kuucapkan hanyalah bahwa aku sangat mencintainya. Sambil berusaha rileks dan menutup mata, aku menunggu saat akhir. Aku bisa rasakan, inilah kesudahanku. Inilah alam hampa, gelap belaka, di mana orang tidak akan bangun lagi, akhir dari segalanya. Aku sangat yakin tiada apa2 lagi di luar kehidupan fana – karena demikianlah cara pikir orang2 cerdas.
Selama aku menjalani proses kematian ini, tidak terpikir untuk berdoa segala macam. Sekalipun tidak. Jika aku mengucapkan nama Tuhan, biasanya hanya untuk makian dan hujatan. Untuk sementara waktu aku merasa seperti tidak sadar atau tertidur. Aku tidak tahu berapa lama ini berlangsung, tapi aku merasa aneh dan membuka mata. Alangkah kagetnya aku ketika menemukan diriku berdiri di samping tempat tidur, dan sedang memandang tubuhku yang berbaring di ranjang. Reaksi pertamaku adalah, “Ini gila! Tidak mungkin aku berdiri di sebelah diriku sendiri. Ini sungguh tidak mungkin.” Ini bukan yang kuduga, ini mestinya salah. Kenapa aku masih hidup? Aku ingin melupakan segalanya, tapi aku tetap sedang memandang tubuhku yang sekarang jadi tak berarti bagiku.
Karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi, aku mulai jengkel. Aku mulai berteriak dan menjerit-jerit pada istriku yang duduk di sebelah ranjang, tapi dia hanya duduk saja seperti batu. Dia tidak melihatku, tidak bergerak – dan aku tetap berteriak-teriak memaki-maki untuk mendapat perhatiannya. Karena bingung, jengkel, dan marah, aku mulai mencoba menarik perhatian pasien lain di ruangan itu, tapi juga tidak dapat reaksi apapun. Pasien itu juga diam saja.
Aku ingin ini semua hanya mimpi dan aku terus-menerus berkata pada diriku, “Ini pasti cuma mimpi.” Tapi aku tahu ini bukan mimpi. Secara aneh aku mulai bisa merasakan lebih awas, lebih tajam, lebih hidup dibandingkan saat kapanpun dalam hidupku. Indraku terasa sangat tajam. Lantai ruangan terasa dingin dan tapak kakikku terasa lembab. Ini mestinya kenyataan. Aku genggam tanganku dan merasa kaget karena bisa merasakan otot2 dan tulang2ku demikian jelas.
Lalu aku mendengar suara, “Howard, Howard .. kemarilah.” Tadinya aku heran dari mana asal suara itu, tapi lalu kutahu itu datang dari belakang pintu masuk. Suara2 itu berlainan satu sama lain. Aku bertanya siapa mereka dan mereka menjawab,”Kami di sini untuk mengurusmu. Kami akan sembuhkan kau. Mari ikut kami.” Aku bertanya lagi apakah mereka dokter atau suster. Mereka menjawab, “Cepat kemarilah, kau akan tahu.” Pertanyaanku dijawab mereka secara tidak jelas. Mereka terus menerus mendesak, memaksaku ke luar pintu ruangan.
Dengan ragu2 aku ke luar, dan tampak di luar seperti berkabut atau tampak agak kabur meskipun aku masih bisa melihat tanganku. Orang2 yang memanggilku berjarak sekitar 3 sampai 4 meter dari tempatku berdiri dan aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas. Mereka tampak seperti siluet atau bentuk, dan jika saya maju untuk melihat mereka lebih jelas, mereka mundur masuk ke dalam kabut. Begitu seterusnya sehingga saya semakin masuk ke dalam kabut lebih dalam lagi.
Makhluk2 aneh ini tetap memaksaku datang kepada mereka. Aku terus bertanya ke mana kita pergi dan mereka menjawab,”Cepatlah, kau akan tahu.” Mereka tidak menjawab apapun, hanya memaksaku untuk mengikuti mereka. Mereka bilang rasa sakitku tidak penting dan tidak berarti. Kata mereka, “Sakit itu hanya omong kosong belaka.”
Aku tahu bahwa kami sudah berjalan berkilo-kilo meter, tapi anehnya kalau berpaling ke belakang aku masih bisa melihat ruangan rumah sakit. Tubuhku masih berbaring kaku di atas ranjang. Dari sudut pandangku seakan aku sedang mengapung dan melihat ruangan itu di bawah. Terasa seperti berjuta-juta kilomenter jauhnya. Saya masih bisa melihat istriku dan pasien lain di kamar rumah sakit. Karena mereka berdua tidak bisa menolongku, aku mengambil keputusan untuk ikut rombongan aneh ini.
Setelah berjalan lebih jauh, makhluk2 ini mulai mengelilingiku. Mereka menggiringku masuk ke dalam kabut. Akut tidak tahu berapa lama ini terjadi. Rasanya seperti tidak ada ukuran waktu. Terasa lama sekali, tapi tidak tahu berapa lama, mungkin berhari-hari, berminggu-minggu. Selama kami berjalan, kabut terasa semakin tebal dan gelap, dan makhluk2 ini pun mulai berubah. Tadinya mereka bersikap riang dan bercanda, tapi setelah berjalan dalam jarak tertentu, sebagian mulai bertindak agresif. Semakin aku curiga dan bertanya, semakin mereka bersikap kasar dan mau menguasai. Mereka mulai mengejek bagian belakang tubuhku yang tidak tertutup oleh baju tidur rumah sakit dan mengatakan betapa buruknya penampilanku. Aku tahu mereka membicarakanku, tapi ketika aku mendekat untuk mendengar apa yang mereka bicarakan, mereka dengan cepat berkata, “Ssst, dia nanti dengar, dia nanti dengar, lho.” Lalu yang lain tampaknya memperingatkan yang bersikap agresif agar berhati-hati atau nanti aku lari ketakutan.
Karena bingung, aku terus bertanya dan mereka terus mendesakku untuk cepat ikut mereka dan berhenti bertanya. Dengan perasaan tak enak karena mereka mulai bersikap agresif, aku mau kembali tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku tersesat. Sekitarku tampak berkabut dengan lantai yang basah, dan aku tidak tahu arah sama sekali. Semua komunikasi dengan mereka dilakukan melalui percakapan seperti layaknya antar manusia. Mereka tampaknya tidak tahu apa yang aku pikirkan, dan aku pun tidak tahu mereka berpikir apa. Sudah mulai jelas mereka semua pembohong dan tidak mau menolongku.
Beberapa jam yang lalu aku berharap untuk mati dan berhenti merasa sakit. Sekarang keadaannya malah lebih parah karena aku dipaksa untuk ikut ke dalam kegelapan bersama gerombolan yang kasar dan kejam ini. Mereka mulai meneriaki dan memaki-makiku, memaksa aku untuk cepat ikut mereka dan mereka tidak mau menjawab apapun.
Akhirnya aku berkata pada mereka bahwa aku tidak mau pergi lebih jauh lagi. Saat itu juga mereka benar2 berubah. Mereka jadi lebih agresif dan mulai mendorong dan memukulku. Aku membalas dan mereka ramai2 mengeroyokku sambil menjerit dan berteriak-teriak. Mereka menggigit dan mencakar, dan aku berkelahi seperti orang gila. Jelas terasa mereka sangat senang menyiksaku. Semua ini seperti permainan buat mereka, dan aku jadi pusat permainannya. Rasa sakit digigit dan dicakar jadi bahan rasa senang mereka. Kalau aku berhasil melepaskan diri dari satu gigitan, lima gigitan lain menyusul.
Di saat ini sekitarku hampir gelap sama sekali, dan kalau tadinya kukira mereka berjumlah 20 atau 30, sekarang terasa mereka berjumlah tak terhitung banyaknya. Setiap makhluk itu tampak lebih bertenaga melalui penyiksaan terhadapku. Perlawananku hanya membawa siksaan yang lebih besar. Mereka berlama-lama mempermainkanku seperti kucing mempermainkan tikus. Setiap hajarn baru mendatangkan hiruk pikuk. Lalu sebagian mulai menggigit dan merobek lepas dagingku. Dengan rasa takut aku mulai tahu bahwa diriku dicabik-cabik dan dimakan hidup-hidup secara pelan2 sehingga hiburan ini bisa berlangsung selama mungkin. Masih banyak lagi hal mengerikan lain yang mereka lakukan tapi aku tidak sanggup menceritakannya di sini.
Makhluk2 ini seperti manusia yang telah kehilangan semua dorongan untuk berbuat baik sama sekali. Beberapa dapat memberitahu pihak lain untuk melakukan sesuatu, tapi tidak tampak ada struktur atau hirarki kelompok. Mereka tampaknya tidak diatur oleh siapapun. Mereka seperti segerombolan makhluk yang didorong oleh nafsu jahat. Selama pergulatan mereka tak tampak kesakitan sama sekali, tapi juga tak tampak punya kemampuan super. Meskipun awalnya kukira mereka pakai baju, dalam perkelahian aku tidak merasakan bahan baju sama sekali.
Setelah berkelahi sekerasnya untuk waktu yang lama, akhirnya aku kalah. Aku berbaring kecapekan di tengah2 mereka, dan mereka pun mulai tenang karena aku bukan mainan yang menarik lagi bagi mereka. Kebanyakan jadi kecewa, tapi beberapa masih menggigiti dan mengejekku karena aku tidak menyenangkan lagi. Pada saat itu aku sudah amat tercabik-cabik. Kadang2 masih menggangguku, dan aku hanya bisa berbaring penuh robekan, dan tidak bisa melawan.
Lalu dari dalam pikiranku terdengar suaraku sendiri,”Berdoa pada Tuhan.” Reaksiku adalah,”Aku tidak berdoa. Tidak tahu caranya.” Aku berbaring tak berdaya di tengah kegelapan dikelilingi ratusan makhluk buas yang baru saja merobek-robeku. Keadaanku tanpa harapan sama sekali, dan tidak mungkin bisa percaya apakah Tuhan ada atau tidak. Suara itu muncul lagi memberitahu untuk berdoa pada Tuhan. Ini sungguh suatu dilema karena aku tidak tahu caranya. Untuk ketiga kalinya suara itu menyuruhku untuk berdoa pada Tuhan. Aku mulai berkata, “Tuhanlah gembalaku, aku tak akan kekurangan … Tuhan memberkati Amerika, “ dan segala kalimat yang berkonotasi agama.
Ini membuat makhluk2 itu jadi sangat buas, seperti disiram minyak mendidih. Mereka berteriak2 dan memaki2 padaku, menyuruhku untuk diam, kata mereka di sini tidak ada Tuhan, dan tak seorang pun bisa mendengarku. Tapi waktu mereka mencaci-maki, mereka pun mundur dari padaku – seperti aku ini adalah racun. Sewaktu mereka bergerak mundur, mereka semakin mencaci, mengutuki, dan menjerit bilang bahwa yang kukatakan tiada artinya dan aku adalah pengecut. Aku menjerit balik pada mereka, “Bapaku yang berada di surga” dan lain2 yang sama isinya. Aku terus berteriak seperti itu sampai tiba2 aku sadar mereka telah pergi. Dalam kegelapan aku meneriakan kalimat2 gerejawi dan merasa puas melihat bagaimana ini bisa mengusir makhluk2 itu.
Sambil berbaring lama, aku merasa tidak punya harapan, dalam kegelapan, dan sengsara. Aku tidak tahu berapa lama ini berlangsung. Aku hanya bisa berbaring di tempat yang asing – penuh robekan. Tiada tenaga sama sekali. Perasaanku mengatakan aku benar2 hancur atau tenggelam dalam kegelapan.
Diselamatkan dari Neraka oleh Yesus
Sewaktu berbaring, semua indraku bekerja sangat baik sehingga rasa sakit sangat terasa jelas. Rasa sakit di rumah sakit tidak ada apa2nya dibandingkan yang kualami saat itu. Sekarang aku tahu inilah akhir dari keberadaanku, dan ternyata jauh lebih jelek dari segala yang pernah bisa kubayangkan.
Lalu hal yang sangat aneh terjadi. Aku mendengar sangat jelas dalam diriku, suaraku sendiri bernyanyi lagu sekolah minggu. Lagu pendek ini berbunyi, “Yesus mencintaiku, ya, saya tahu …” begitu terus berulang-ulang. Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba2 aku ingin percaya hal itu. Karena sudah tidak berdaya sama sekali, aku ingin bergantung pada pikiran itu. Lalu dalam hati aku menjerit,”Yesus, tolong selamatkan aku.” Aku jeritkan ini dalam hatiku dengan segala sisa kekuatan yang ada.
Setelah itu aku melihat jauh dari kegelapan sebuah bintang yang kecil sekali. Karena tidak tahu, kukira itu mestinya komet atau meteor karena benda itu bergerak cepat. Lalu kusadari bintang itu bergerak menujuku. Semakin sangat terang dengan cepatnya. Pada saat cahayanya mendekat, radiasinya menyelubungiku, dan aku terangkat – bukan atas usahaku – aku diangkat. Lalu aku melihat – dengan sangat jelas – semua luka2ku, air mataku, babakbelurku, hilang begitu saja. Dan aku jadi utuh kembali di dalam radiasi cahaya ini. Lalu aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena perasaan yang belum pernah kualami dalam hidupku.
Hal lain yang terjadi adalah tiba2 aku jadi tahu banyak hal. Aku tahu bahwa cahaya ini mengenalku. Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi, tapi saya pokoknya tahu bahwa sinar ini kenal aku. Lebih dari itu, aku mengerti bahwa ia mengenalku lebih baik daripada ibu atau bapakku. Cahaya yang berkilauan yang memelukku mengenal saya secara akrab dan mulai berkomunikasi menyatakan pengetahuan yang luar biasa. Aku tahu bahwa ia mengetahui semua tentang diriku dan bahwa aku dicintai dan diterima sebagaimana adanya diriku. Cahaya itu mengutarakan cintanya dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan. Caranya mencintaiku sungguh di luar pengetahuanku bahwa cinta sejenis ini bisa terjadi. Ia adalah sumber tenaga yang utuh, yang memancar dengan keagungan yang tak terkatakan, yang menyatakan kebaikan dan cinta. Ini adalah rasa cinta yang sukar dibayangkan manusia.
Aku tahu bahwa makhluk bersinar ini sungguh perkasa. Ialah Raja segala Raja, Yesus Kristus Sang Juru Selamat, dan Ia benar2 mengasihiku dan membuatku sangat bahagia. Aku dapat merasakan sinarnya menyentuhku – seperti tangan2 lembut di sekelilingku. Dan dapat kurasakan sinar itu memelukku erat2, mengusap-usap punggungku seperti ibu memeluk bayinya, seperti ayah yang berjumpa dengan anaknya yang hilang. Yesus mencintaiku dengan kekuatan yang luar biasa. Setelah tadi mengalami siksaan yang tak terperikan, dan lalu sekarang diterima, dicintai dengan hebat olehNya, aku sungguh merasa ini melebihi segala yang bisa kubayangkan dan yang kuketahui. Aku mulai menangis dan airmata terus bercucuran. Lalu kami bergerak ke atas meninggalkan tempat itu.
Kami terbang semakin lama semakin cepat seperti roket meninggalkan kegelapan. Kami bergerak mengarungi jarak yang sangat jauh dengan kecepatan cahaya. Aku berusaha menenangkan diri karena merasa malu telah menangis begitu hebat. Airmata dan ingus membanjir dari mata dan hidungku. Aku berusaha keras berhenti menangis dan mulai melihat ke arah yang kami tuju. Tampak di mukaku seperti sebuah galaksi yang lebih besar dan berbintang lebih banyak daripada yang saya lihat dari bumi. Di tengahnya tampak pusat cahaya yang sangat cemerlang, seperti Mahkluk Hidup bercahaya yang sangat besar. Segera aku tahu inilah Tuhan. Di luar cahaya di tengah itu tampak berjuta-juta lingkaran cahaya yang ke luar masuk cahaya besar itu.
Lalu terbersit di kepalaku, “Kembalikan aku.” Aku berkata dalam hati pada Yesus untuk mengembalikanku ke tempat gelap tadi. Aku merasa sedemikian sangat malu pada diriku, pada segala yang kulakukan dalam hidupku, sehingga aku ingin menyembunyikan diri dalam kegelapan. Aku tidak mau lagi pergi menuju cahaya itu – sebenarnya ingin, tapi merasa tidak layak. Tak terhitung berapa kali aku menyangkal realitas di hadapanku ini, betapa seringnya aku menggunakan nama Tuhan untuk memaki. Sungguh kesombongan luar biasa untuk berani menggunakan nama Tuhan sebagai kata penghinaan. Aku takut untuk mendekat. Aku juga menyadari kekuatan yang ke luar dari cahaya itu demikian hebat sehingga dapat memporakporandakan tubuhku.
Aku merasa bagaikan sampah, lap pel kotor, di hadapan Tuhan. Sahabatku Yesus yang membawaku mengetahui rasa takut, ragu, dan maluku. Aku berkata pada diriku sendiri, “Aku ini sampah yang layak berada di selokan di tempat gelap tadi. Kalian tentunya salah memilih. Aku tidak seharusnya berada di sini.” Untuk pertama kalinya Ia berbicara. Dia berkata langsung ke dalam pikiranku dengan suara pria muda, “Kami tidak melakukan kesalahan, dan engkau memang tempatnya di sini.” Ia berkata jika aku tidak merasa nyaman, kami tidak usah mendekat. Kami berhenti di tempat, masih berjarak ribuan tahun cahaya jauhnya dari Tuhan yang berada di Surga itu. Aku terus menangis dan Ia mengbiburku. Lalu Yesus memanggil melalui suara musik beberapa lingkaran cahaya yang mengelilingi Pusat Cahaya itu. Mereka datang dan melingkari kami. Semuanya berjumlah sekitar 6 sampai 8 makhluk bercahaya.
Aku masih menangis dan makhluk2 menakjubkan ini bertanya melalui pikiran, “Apakah kau takut akan kami?” Kujawab tidak. Mereka berkata mereka bisa mengurangi kecemerlangan di tubuhnya dan muncul sebagai manusia biasa jika itu membuatku lebih nyaman. Aku mohon pada mereka untuk tidak berubah bentuk. Mereka tampak sangat luarbiasa indahnya. Dalam hidupku aku adalah seorang seniman. Kutahu ada 3 warna primer (warna utama: merah, hijau, biru) , 3 warna sekunder, 6 warna tertier dalam spektrum warna. Tapi di sini aku melihat spektrum warna yang jelas punya sedikitnya 80 warna2 primer. Aku tidak bisa menggambarkan apa yang kulihat karena warna2 itu belum pernah kulihat sebelumnya.
Apa yang ditampakkan oleh makhluk2 itu adalah kemegahannya. Aku tidak melihat sosok mereka dengan jelas, tapi aku puas dengan apa yang kulihat. Aku terkejut dan gelisah waktu merasa mereka tahu segala yang kupikirkan. Aku tidak tahu apakah aku bisa mengontrol pikiranku dan menyembunyikan rahasia. Aku bertanya pada mereka lewat pikiran, “Bagaimana jika aku memikirkan hal yang orang lain seharusnya tidak boleh tahu? Seperti misalnya: buah dada.” Mereka semua tertawa dan berkata bahwa mereka tahu semua yang kupikirkan dan aku tidak bisa membuat mereka kaget. Aku merasa malu tapi lega.
Kami mulai bercakap melalui pikiran, dan obrolan berlangsung sangat lancar, mudah dan santai. Aku mendengar suara mereka dengan jelas. Setiap makhluk punya kepribadian dan suara tersendiri, dan mereka semua menggunakan bahasa Inggris biasa. Semua yang kupikirkan dapat diketahui mereka. Mereka tampaknya kenal dan mengetahui diri dan masa laluku luar dalam. Rasanya seperti berada di pertemuan keluarga di perayaan Natal dan tidak bisa ingat dengan jelas nama mereka atau dengan siapa mereka menikah atau bagaimana hubungan mereka denganku. Aku tidak tahu apakah mereka berhubungan saudara denganku, tapi sebelumnya tidak pernah kujumpai orang yang begitu mengetahui tentang diriku seperti mereka ini.
Sepanjang percakapan yang terasa sangat panjang itu, tubuhku terus ditunjang oleh Yesus dengan sinarNya terus menyelubungiku. Kami bagaikan diam di tempat tapi sebetulnya mengapung di udara terbuka. Di sekeliling kami terdapat makhluk2 bercahaya seperti bintang2 di angkasa, datang dan pergi. Tampaknya seperti penglihatan raksasa sebuah galaksi yang sangat penuh dengan bintang2. Dan pada Sumber Cahaya raksasa di tengah, makhluk2 bercahaya itu tampak sedemikian banyak dan berdekatan satu sama lain sehingga mereka tidak dapat dikenali lagi sebagai setiap individu. Mereka semua bergerak sangat harmonis dengan Sang Pencipta sehingga tampak seperti menyatu. Aku kemudian diberi penjelasan bahwa makhluk2 bercahaya itu harus kembali ke Sumber Cahaya untuk disegarkan kembali melalui perasaan harmonis dan bersatu. Jika menjauh terlalu lama, kecemerlangan akan berkurang dan mereka merasa terpisah. Kenikmatan terbesar bagi mereka adalah kembali ke pusat segala kehidupan. Tujuan percakapan para makhluk di sekelilingku adalah karena mereka ingin menghiburku.
Aku merasa terganggu karena tampil telanjang. Waktu di tempat gelap itu, rupanya aku kehilangan baju rumah sakitku. Aku tampak seperti manusia biasa yang telanjang. Mereka berkata hal ini tidak jadi masalah dan mereka sudah biasa sekali dengan anatomi manusia. Perlahan aku merasa santai dan tidak lagi menutupi bagian kemaluanku dengan telapak tangan.
Berikutnya, mereka ingin bicara mengenai hidupku. Aku kaget waktu perjalanan hidupku dari awal sampai akhir tampak di depanku, berjarak sekitar 2 meter dari tempatku berada. Mereka tunjukkan perjalanan hidupku tapi bukan dari sudut pandangku. Aku melihat diriku dalam hidupku, semuanya sebenarnya adalah sebuah pelajaran, meskipun pada saat itu aku tidak tahu. Mereka mencoba menjelaskan sesuatu padaku tapi aku tidak tahu saat itu karena aku tidak mengira kalau akan kembali ke bumi. Kami melihat hidupku dari awal sampai akhir. Ada bagian yang diperlambat mereka, difokuskan lebih dekat, dan bagian lain yang dilewat begitu saja. Hidupku ditunjukkan melalui sudut pandang yang belum pernah terpikir olehku sebelumnya. Semua prestasi yang kucapai dengan kerja keras, pengakuan orang terhadap keberhasilanku di SD, SMP, perguruan tinggi, dan dalam karirku tidak berarti apa2 bagi mereka.
Aku dapat merasakan perasaan sedih, menderita, atau bahagia dari diri mereka pada saat hidupku ditayangkan. Mereka tidak bilang ini bagus itu jelek, tapi aku bisa merasakan. Dan bisa juga kurasakan hal2 yang tidak berarti bagi mereka. Misalnya, mereka tidak melihat rekor tolak peluru di SMA yang sangat aku banggakan. Apa yang menarik bagi mereka adalah bagaimana aku berinteraksi dengan orang lain, baik yang jangka panjang atau pendek. Sayangnya, kebanyakan sikapku pada orang lain tidak bagus, alias aku tidak menunjukkan kasih sayang pada mereka. Saat2 di mana aku menunjukkan kasih sayang, mereka tampak bahagia.
Tampak bahwa kebanyakan hubunganku dengan orang lain bersifat manipulatif. Dalam karir profesionalku, misalnya, aku melihat diriku duduk di kantorku sebagai profesor perguruan tinggi, dan seorang mahasiswa datang padaku dengan sebuah persoalan pribadi. Aku duduk sambil menunjukkan sikap penuh perhatian, sabar, penyayang, padahal dalam hati aku merasa bosan setengah mati. Aku sembunyi2 melihat jam tanganku di bawah meja dengan tidak sabar menunggu mahasiswa itu selesai bicara. Aku melihat pengalaman2 serupa ditemani oleh makhluk2 indah bercahaya ini.
Saat aku remaja, karir ayahku membuatnya tertekan terus dan kerja 12 jam sehari. Karena sakit hati kurang diperhatikan ayah, setiap kali ia pulang kantor, aku bersikap dingin dan tidak peduli padanya. Ini membuatnya marah, dan memberi lebih banyak alasan bagiku untuk membencinya. Aku dan ayah bertengkar, dan ibuku jadi marah. Dalam hidupku aku melihat ayahku sebagai sosok yang jahat dan aku sebagai korbannya. Kala hidupku diputar lagi, aku melihat bagaimana diriku sendiri yang juga menimbulkan kesusahan itu. Bukannya menyambut ayahku dengan ramah kalau pulang kantor, aku malah menusukkan duri pada dirinya untuk memuaskan rasa sakit hatiku. Aku melihat pada suatu malam waktu adik perempuanku mengalami kesusahan, aku pergi ke kamarnya dan memeluknya terus menerus tanpa berkata apa2. Ternyata ini malah dinilai sebagai prestasiku terbaik di sepanjang hidupku.
Terapi Cinta dan Pencerahan
Seluruh tayangan hidupku seharusnya membuat hatiku hancur dan tampak seperti orang sakit jiwa, tapi ini tidak kurasakan karena Yesus dan makhluk2 yang mengelilingiku tetap menunjukkan bahwa mereka mencintaiku. Setiap kali saya malu dan kecewa terhadap jalan hidupku, mereka mematikan tayangan sebentar dan mereka tetap menunjukkan kasih mereka yang nyata. Tubuhku luar dalam dapat merasakan cinta itu, menembus sukma. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi terasa begitu.
Mereka menyatakan cintanya melalui terapi, karena tayangan hidupku sangat menghancurkan hatiku. Sungguh benar2 menyedihkan. Dan sialnya, hidupku makin tampak bertambah jelek. Kebodohan dan sifat mementingkan diri sendiriku saat remaja semakin menjadi waktu aku dewasa – semua dalam selubung jadi suami, ayah, dan warga negara yang baik. Kemunafikanku sangat memuakan. Tapi ini semua tidak mengubah cinta mereka terhadapku. Setelah tayangan selesai, mereka bertanya,”Apakah kau punya pertanyaan?” Aku punya sejuta pertanyaan.
Aku bertanya,”Bagaimana dengan Alkitab?”
Mereka bilang,”Emang kenapa?”
Aku bertanya apakah isinya betul, dan mereka bilang iya. Aku bertanya kenapa dong kalau aku membacanya, isinya seperti saling bertentangan. Mereka menayangkan hidupku lagi – sesuatu yang luput dari pengamatanku. Mereka tunjukkan saat2 aku membuka Alkitab, membacanya dengan tujuan cari kesalahan dan mempertentangkan isinya. Aku sedang berusaha membuktikan bahwa Alkitab tidak layak dibaca. Aku berkata pada mereka bahwa isi Alkitab tidak jelas bagiku, tidak masuk akal. Mereka berkata bahwa Alkitab mengandung kebenaran rohani, dan aku harus membacanya secara rohaniah untuk dapat mengerti isinya. Seharusnya Alkitab dibaca dalam keadaan seperti berdoa. Kata mereka, Alkitab bukan buku biasa dan jika kita membacanya seperti dalam sikap berdoa, maka Alkitab akan berbicara pada pembacanya, akan menampakkan maknanya pada dirimu, tanpa engkau berusaha lagi. Mereka, kawan2ku ini, mengerti seluruh pertanyaan di kepalaku, bahkan sebelum kuucapkan.
Aku bertanya, misalnya, agama apa yang terbaik. Tadinya kukira jawabannya seperti “Presbitarian.” Aku kira mereka semua orang2 Kristen. Jawaban mereka adalah,”Agama terbaik adalah yang membawamu paling dekat pada Tuhan.” Aku bertanya apakah ada kehidupan di planet2 lain. Mereka bilang jagad raya ini penuh dengan kehidupan. Karena aku takut akan perang nuklir, aku bertanya apakah akan terjadi perang nuklir di dunia dan mereka jawab tidak. Aku kaget dan menerangkan mereka dengan seksama bahwa aku hidup di dunia yang penuh ancaman perang nuklir. Ini salah satu sebab kenapa aku jadi orang seperti ini. Kupikir, hidup ini tidak punya harapan, dunia ini akhirnya juga akan meledak, semuanya tidak berarti apa2. Karena hal ini, kupikir aku bisa bertindak apapun karena semua akhirnya hanya sia2 belaka.
Mereka berkata, “Tidak, tidak akan ada perang nuklir.”
Aku bertanya bagaimana mungkin mereka bisa yakin begitu. Mereka bilang, “Tuhan mencintai dunia.” Mereka bilang, paling parah satu atau dua bom nuklir meledak secara tidak sengaja, tapi tidak akan ada perang nuklir. Aku bertanya kenapa begitu banyak perang. Mereka bilang dari semua perang yang dirancang manusia, Tuhan mengizinkan beberapa terjadi untuk membuat manusia sadar dan berusaha menghentikannya. Sains, teknologi, dan penemuan lain diberikan Tuhan pada manusia melalui inspirasi. Manusia benar2 telah dibimbing untuk membuat penemuan2 itu, tapi kemudian manusia menggunakannya untuk menghancurkan diri sendiri. Manusia dapat menghancurkan planet bumi dengan segala binatang, tumbuhan, dan segala isinya.
Mereka menjelaskan bahwa mereka peduli akan segala manusia di bumi. Mereka tidak tertarik untuk membuat satu kelompok lebih maju daripada kelompok lain. Mereka ingin setiap orang menganggap orang lain lebih tinggi darinya, mencintai sesama, bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Jika orang lain sakit, maka seluruh manusia harus juga merasakannya dan membantu. Planet bumi telah begitu berkembang sehingga saat ini seluruh dunia dapat saling berhubungan dan kita bisa jadi satu masyarakat. Kata mereka, manusia punya kebebasan untuk menentukan. Jika kita merubah diri, maka kita dapat mengubah masa depan kita dan ini ditunjukkan padaku. Mereka menunjukkan penglihatan masa depan di mana terjadi global depresi di seluruh dunia. Kata mereka, jika manusia berubah, maka masa depanpun akan berubah. Aku bertanya bagaimana mungkin merubah sifat banyak orang, ini bagiku adalah sangat sukar, bahkan tidak mungkin, percuma saja untuk dicoba. Kawan2ku menjelaskan dengan tegas bahwa hanya dibutuhkan satu orang saja untuk mencoba dan karena itu orang lain akan berubah pula untuk jadi lebih baik. Mereka bilang satu2nya cara untuk memperbaiki dunia dimulai dari satu orang. Satu lalu menjadi dua, dan lalu jadi tiga, dst. Inilah satu2nya cara untuk melakukan perubahan besar2an.
Aku bertanya bagaimana perkembangan dunia di masa depan – sesuai dengan yang mereka inginkan untuk terjadi di bumi. Pemandangan masa depan yang mereka tunjukkan sangat berbeda dengan yang ada di benakku. Bayanganku mengenai masa depan tadinya seperti yang tampak di film Star Wars, semuanya serba modern, teknologi ruang angkasa, dll. Tapi yang ditunjukkan oleh mereka tidak nampak ada teknologi apapun. Yang dilakukan setiap orang di masa depan yang penuh bahagia ini adalah menghabiskan kebanyakan waktunya untuk membesarkan anak2. Kepedulian utama adalah anak2, dan setiap orang menganggap anak sebagai komoditas yang paling berharga di dunia. Dan jika seorang bertumbuh dewasa, tidak ada rasa gelisah, benci, atau persaingan. Terasa adanya sikap mempercayai dan saling menghargai yang sangat besar. Di masa depan ini, jika seseorang merasa terganggu, maka seluruh masyarakat akan membantunya secara spiritual melalui doa dan kasih sayang.
Di waktu luang mereka akan bertanam tanpa butuh kekuatan jasmani. Tanam2an akan menghasilkan buah2an besar dan sayur2an melalui doa. Masyarakat dapat mengatur cuaca di planet bumi melalui doa. Setiap orang bekerja dengan saling percaya – dan mereka bisa memanggil hujan jika dibutuhkan, atau matahari untuk menyinari. Binatang2 hidup rukun dengan manusia. Manusia memang masih bisa sakit tapi semua pasti sembuh melalui doa. Orang2 tidak lagi tertarik akan ilmu pengetahuan tapi tertarik akan hikmat, karena semua pengetahuan sudah mereka ketahui melalui doa. Teknologi tidak dibutuhkan lagi karena manusia akan mampu mengontrol benda2 dan enerji. Terdapat banyak suku bangsa dan bahasa tapi semua orang bisa berkomunikasi satu sama lain melalui telepati pikiran. Semua bisa terpecahkan dan orang2 dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Manusia tidak lagi punya keinginan untuk bepergian karena mereka secara spiritual bisa berkomunikasi dengan siapapun di seluruh dunia. Tidak perlu pergi2 jauh segala. Mereka sangat puas dengan keadaan mereka dan orang2 di sekitarnya sehingga mereka tidak ingin pergi berlibur ke tempat lain. Buat apa berlibur segala? Hidup mereka sudah sedemikian memuaskan dan penuh kebahagiaan. Kematian saat itu terjadi saat orang tsb. sudah mengalami semua hal yang memang harus dialaminya. Kalau mati, roh orang itu akan naik, dan masyarakat di sekeliling akan berkumpul. Akan ada syukuran besar karena mereka semua bisa melihat pemandangan surgawi, dan roh orang mati itu bergabung bersama para malaikat yang menjemputnya. Orang2 bisa melihat roh itu pergi dan memang sudah waktunya meninggalkan dunia. Orang2 yang mati sudah memenuhi segala yang perlu dilakukannya untuk mencintai, menghargai, mengerti dan bekerja sama dengan orang lain secara harmonis. Yang tampak terasa dari pemandangan masa depan ini adalah sebuah taman milik Tuhan. Manusia lahir di taman ini penuh dengan kesadaran akan Penciptanya. Manusia kemudian harus membuang kulit luarnya di dunia untuk kemudian lulus dan meneruskan hidupnya di surga – di mana ia akan punya hubungan yang intim dan terus bertumbuh bersama Tuhan.
Catatan: masih banyak lagi yang diramalkan terjadi dan bisa baca sendiri di bukunya.
Apa yang Terjadi Setelah Mati
Aku bertanya pada Yesus dan kawan2ku apa yang terjadi setelah orang mati. Mereka bilang jika seorang yang baik hati meninggal, para malaikat akan datang menjemputnya dan roh secara bertahap akan belajar sebab tidak mungkin bisa seketika langsung bertemu Tuhan. Para malaikat mengetahui semua pikiran manusia dan tahu apa yang kita butuhkan, dan mereka lalu menyediakannya. Misalnya, kadang2 mereka menyediakan padang rumput yang indah atau hal lainnya di saat berikutnya. Jika seseorang ingin bertemu sanak saudaranya, malaikat akan membawa saudara itu datang. Jika seseorang sangat suka perhiasan, malaikat akan menunjukkan perhiasan2 pada orang itu. Kita melihat apa yang penting untuk mengenal dunia roh adalah keberadaan Tuhan yang nyata. Para malaikat mendidik manusia sebagai makhluk roh dan membawanya ke surga. Roh manusia ini akan bertumbuh dan berkembang terus secara rohani, mengikis habis segala kekawatiran, hawa nafsu, dan insting kebinatangan yang selalu harus kita lawan sewaktu masih hidup di bumi. Selera2 yang berasal dari dunia mulai hilang dan tidak lagi butuh perjuangan untuk mengatasinya. Roh manusia ini menjadi sebagaimana ia seharusnya, yakni bagian dari keberadaan Tuhan.
Ini semua terjadi setelah kematian orang2 yang penuh kasih sayang, yang baik dan mencintai Tuhan. Mereka sangat menekankan bahwa manusia tidak punya pengetahuan atau hak untuk menghakimi orang lain – dalam hal hubungan jiwanya dengan Tuhan. Hanya Tuhanlah yang mengetahui keadaan hati seseorang. Seseorang mungkin kita kira jahat, tapi Tuhan mungkin tahu hati orang itu baik. Sebaliknya, kita mungkin mengira orang itu baik, tapi Tuhan mungkin melihatnya sebagai seorang munafik dan berhati gelap. Hanya Tuhan yang tahu hati tiap manusia. Tuhan akhirnya akan menghakimi setiap orang. Tuhan akan mengizinkan roh manusia yang jahat diseret ke dalam kegelapan oleh makhluk2 yang berasal dari kegelapan. Sudah kuceritakan apa yang kualami di tempat gelap itu dan aku tidak tahu lagi lebih dari itu. Menurut dugaanku, aku hanya melihat pucuk gunung es belaka.
Aku layak berada di tempat gelap itu – itu tempat yang cocok bagi orang seperti aku dan makhluk2 yang menyiksaku cocok untuk menemaniku di sana. Tuhan mengizinkanku untuk mengalaminya, dan lalu menyelamatkanku, karena Ia mendapatkanku kembali setelah itu. Itulah caraNya membersihkan diriku. Orang2 mati yang tidak diseret ke kegelapan karena kebaikan hati mereka waktu hidup, akan tertarik ke atas, ke tempat terang.
Aku tidak pernah melihat surga dan aku tidak berada di surga. Surga terletak sangat jauh sekali dari tempat kami berada, dan inilah hal2 yang mereka tunjukkan padaku. Kami bicara untuk waktu yang lama tentang banyak hal, lalu aku melihat diriku sendiri. Aku tampak terang benderang, bercahaya. Aku jadi tampak indah – meskipun tidak seindah kawan2ku tsb. – tapi aku jadi punya kerlipan cahaya yang tadinya tidak ada. Karena tidak mau kembali lagi ke bumi, aku berkata pada mereka bahwa aku ingin bersama mereka selamanya. Aku berkata,”Aku siap, aku siap untuk menjadi seperti kalian dan berada di sini selamanya. Ini bagus sekali. Aku cinta kalian. Kalian hebat deh.” Aku tahu bahwa mereka mencintaiku dan tahu segalanya tentang diriku. Aku tahu semua akan jadi baik untuk selanjutnya. Aku bertanya apakah aku dapat menanggalkan tubuhku dan jadi seperti mereka dengan segala kemampuan ajaib yang mereka miliki.
Mereka berkata,”Tidak, kau harus kembali.”
Mereka menjelaskan bahwa diriku masih sangat terbelakang dan sebaiknya kembali ke jasad jasmaniku untuk belajar lagi. Sebagai manusia aku akan dapat kesempatan untuk berkembang sehingga kelak kalau mati aku bisa lebih sesuai dengan mereka. Aku harus mengembangkan sifat2 penting untuk jadi seperti mereka dan terlibat dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Aku tidak mau kembali dan mencoba berargumentasi dengan mereka. Aku takut kalau nantinya aku akan kembali ke tempat gelap itu dan aku memohon pada mereka untuk boleh tinggal bersama mereka.
Kawan2ku berkata,”Kaukira kami mengharapkanmu untuk jadi sempurna, setelah kau merasakan segala cinta kami padamu? Bahkan setelah kami tahu bahwa kau di bumi menghujat Tuhan, dan memperlakukan orang di sekelilingmu bagaikan kotoran? Dan bahkan setelah kami mengirim orang2 padamu untuk menolongmu dan mengajar tentang kebenaran? Apakah engkau benar2 berpikir bahwa kami akan berpisah darimu?”
Aku bertanya,”Bagaimana dengan perasaan kegagalanku sendiri? Kalian memang telah menunjukkan bagaimana aku dapat hidup lebih baik, tapi aku yakin tidak akan bisa mencapainya. Aku tidak bisa berubah sebaik itu.”
Perasaan mementingkan diri sendiri mulai muncul lagi dan aku berkata,”Tidak bisa. Aku tidak mau kembali.”
Mereka berkata,”Ada orang2 yang peduli akan engkau: istrimu, anak2mu, ibu bapakmu. Kau harus kembali untuk mereka. Anak2mu butuh bantuanmu.”
Aku jawab,”Kalian semua bisa menolong mereka. Kalau kalian memaksa aku kembali, banyak hal2 yang tidak bisa terlaksana. Kalau aku kembali dan membuat kesalahan, aku tidak akan tahan sebab kalian telah menunjukkan kalau aku bisa jadi lebih baik dan penuh kasih sayang tapi aku akan lupa hal itu. Aku akan berbuat jahat pada seseorang. Aku tahu ini akan terjadi karena aku hanyalah manusia biasa. Aku akan gagal dan tidak bisa bangkit lagi. Aku akan merasa sangat bersalah sampai mau bunuh diri tapi aku tidak bisa melakukan itu sebab hidup ini begitu berarti. Aku bisa jadi sinting, karena itu kalian tidak bisa mengirim saya kembali.”
Mereka meyakinkan bahwa kesalahan adalah bagian dari kehidupan manusia yang dapat diterima. “Pergilah,” kata mereka, “perbuatlah sebanyak mungkin kesalahan yang kau inginkan. Melalui kesalahan itulah engkau belajar.” Mereka menerangkan bahwa selama aku mencoba berbuat yang kurasa benar, maka aku akan berjalan di jalan yang lurus. Jika aku berbuat kesalahan, aku harus benar2 mengakuinya, lalu terus maju tanpa menengok ke belakang dan mencoba untuk tidak membuat kesalahan yang sama. Yang paling penting adalah menjadi yang sebaik mungkin dengan standard kebaikan dan kebenaran dan jangan kompromikan standard itu untuk dapat dukungan dari orang lain.
“Tapi,” kataku, “Kesalahan membuatku sedih.”
Kata mereka,”Kami mencintaimu sebagaimana engkau adanya dengan segala kesalahanmu dan lain2nya. Dan engkau akan merasakan pengampunan dari kami. Kau bisa merasakan cinta kami setiap waktu.”
Kataku,”Aku tak mengerti. Bagaimana caranya?”
“Masuk ke dalam bathinmu.” Kata mereka. “Mintalah cinta kami dan kami berikan padamu jika engkau memintanya dari lubuk hatimu.”
Mereka menganjurkan agar aku mengakui kesalahan dan meminta pengampunan. Sebelum kata2 minta ampun itu ke luar dari mulutku, aku sudah diampuni – tapi, aku harus menerima pengampunan itu. Rasa percayaku atau pengampunan dosa itu harus benar2 nyata, dan aku harus tahu bahwa pengampunan sudah diberikan. Aku harus mengaku baik di muka umum atau sendirian bahwa aku melakukan kesalahan, lalu minta ampun. Setelah itu, adalah penghinaan jika aku tidak menerima pengampunan dosa. Aku tidak boleh terus hidup dengan rasa bersalah, dan aku tidak seharusnya mengulangi kesalahan yang sama lagi – tapi harus belajar dari kesalahan itu.
“Tapi,” kataku,”bagaimana aku bisa tahu mana pilihan yang benar? Darimana aku bisa tahu apa yang kau ingin aku lakukan?”
Mereka menjawab,”Kami mau engkau melakukan apa yang kauinginkan. Ini berarti membuat pilihan – dan sebenarnya tidak ada satu pilihan yang benar. Semuanya adalah rangkaian kemungkinan2, dan kau harus memilih terbaik dari kemungkinan2 itu. Jika kau melakukan itu, kami berada di sampingmu untuk membantumu.”
Aku tidak menyerah dengan mudah. Aku berdebat lagi bahwa dunia penuh dengan masalah dan di disi aku mendapat semua yang kubutuhkan. Aku pertanyakan kemampuanku untuk mencapai segala hal yang penting bagi mereka di dunia. Mereka bilang bahwa dunia merupakan mimik rupa yang indah dari Tuhan. Seseorang bisa menemukan keindahan atau kejelekan tergantung dari apa yang dituju dalam pikirannya. Mereka menjelaskan bahwa perkembangan sederhana dan rumit dari bumi itu di luar kemampuanku untuk mengerti, tapi aku akan jadi alat yang cukup berguna bagi Tuhan. Setiap ciptaan sangatlah menarik karena merupakan manifestasi sang Pencipta. Kesempatan yang sangat penting buatku adalah untuk menjelajahi dunia dengan rasa kagum dan senang. Mereka tidak pernah memberiku perintah langsung. Haruskah aku membangun gereja untuk Tuhan? Mereka bilang gedung2 itu untuk pelayanan manusia. Mereka menginginkan aku untuk menjalani hidupku untuk mencintai sesama dan bukan hal2 lain.
Makhluk2 bercahaya kemilau, yang juga guru2ku, ini sangat meyakinkan. Aku juga sangat sadar bahwa di belakang mereka terdapat Tuhan yang Maha Besar, yang kita kenal sebagai sang Pencipta. Mereka tidak pernah bilang,”Tuhan mau kau begini atau begitu,” tapi ini dinyatakan secara halus melalui apa yang mereka ucapkan. Aku tidak mau berdebat lebih jauh karena Sang Agung tampak sangat indah dan mempesona. Kasih sayang yang memancar darinya sungguh meluap-luap.
Kukatakan pada kawan2ku bahwa aku tidak mau kembali ke dunia karena aku akan patah hati dan mati jika aku harus meninggalkan mereka. Aku tidak betah hidup di bumi yang penuh dengan kebencian dan kompetisi, kataku. Mereka bilang mereka tidak pernah berpisah denganku. Aku bilang aku tidak pernah merasakan kehadiran mereka di bumi, dan kalau kembali ke bumi akupun tidak akan tahu mereka berada di situ atau tidak. Mereka berkata aku harus diam, konsentrasi, dan minta cinta kasih sayang mereka, dan cinta akan terasa, dan aku akan tahu mereka berada dekat denganku.
Kata mereka,”Kau tidak akan berada jauh dari kami. Kami bersamamu. Kami selalu bersamamu setiap saat.”
Kataku,”Tapi bagaimana aku tahu? Kalian memang sudah memberitahu, tapi kalau aku kembali ke dunia, ini semua hanya akan jadi teori yang muluk.”
Mereka berkata,”Kapanpun engkau membutuhkan kami, kami akan berada di sampingmu.”
Kataku,”Apakah kalian tiba2 muncul di depanku?”
Jawab mereka,”Tidak, tidak. Kami tidak akan mencampuri hidupmu secara gamblang seperti itu. Kami hanya berada di sampingmu dan kau akan merasakan kehadiran kami, merasakan cinta kami.”
Setelah itu aku tidak bisa berdebat lagi, dan berkata mungkin saatnya aku kembali. Dan seketika itu pula aku kembali ke tubuh kasarku, rasa sakit kembali lagi, lebih hebat dari sebelumnya.
Pengalaman hampir mati Howard Storm berhenti di sini.
Kembali hidup di bumi ternyata tidak mudah bagiku. Selain masalah kesehatan, aku pun harus menghadapi berbagai penolakan dan ejekan orang2 di sekitarnya tentang keadaan rohaniku. Ini dimulai di rumah sakit. Aku merasakan rasa cinta yang besar sekali dari dalam diriku. Aku ingin mencium dan memeluk setiap orang, tapi aku bahkan tidak bisa duduk. Aku berkata,’Duh, kau tampak sangat bagus’ pada setiap orang, pada siapa saja. Aku jadi bahan olok2an di sekitarku. Orang2 pada bingung melihat tingkahku. Seperti kebanyakan orang yang mengalami PHM, rasa kasih sayang dan empatiku berkembang pesat.
Setelah PHM, aku ingin membagi pengalamanku dengan orang lain, tapi aku tidak kenal seorang pun yang tertarik akan hal ini. Setelah kembali dari rumah sakit, aku menelpon seorang biarawati bernama Dolores yang dulu pernah jadi muridku di kelas senirupa. Biarawati Dolores adalah guru sejarah di Notre Dame Academy dan kami saling bertegur sapa sampai bertahun-tahun kemudian. Aku minta dia untuk datang menjengukku. Waktu ia datang, aku berkata,”Sesuatu yang indah baru saja terjadi dalam hidupku. Aku telah bertemu Yesus.” Lalu aku mulai menangis dan tidak bisa berhenti menangis. Semakin keras aku berhenti menangis, semakin keras pula tangisan itu. Dolores dengan sabar duduk di sebelahku menatapku menangis. Setelah ½ jam, Dolores minta izin pulang dan akan kembali minggu depan. Minggu depannya, aku bisa mengontrol diriku dan menceritakan semuanya padanya. Dia diem aja selama aku bercerita. Setelah aku selesai, aku bertanya,”Kamu percaya pada ceritaku?” Dia menatap mataku dan menjawab,”Tentu saja aku percaya, tapi aku heran mengapa sampai selama ini baru terjadi.”
Tanyaku,”Apa maksudmu? Apa yang lama baru terjadi?”
Katanya,”Ingatkah Bapak pertama kali kita bertemu?”
Jawabku,”Tidak.”
“Bapak memanggilku ke luar di hari pertama di kelas. Bapak bilang bahwa Bapak adalah seorang atheis dan Bapak tidak mau menjumpai hal2 yang berbau agama di kelasmu.”
“Oh iya, sekarang aku ingat,” jawabku.
Katanya,”Sejak hari itu aku berdoa bagimu setiap hari. Aku juga minta biarawati2 lain untuk mendoakanmu. Itu adalah 13 tahun yang lalu. Saya heran kenapa kok lama sekali doaku baru dikabulkan.”
Dolores mendoakanku selama 13 tahun untuk mengenal Tuhan. Jika ada orang yang bertanya kenapa aku diizinkan mengalami semua ini, aku jawab karena biarawati Dolores mendoakanku selama 13 tahun.

